Sabtu, 04 November 2017

RESUME ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK DENGAN METODE STATISTICAL QUALITY CONTROL (Studi Kasus: pada PT “ X” Depok)

Perusahaan Konveksi PT “X” di Depok yang telah memiliki produk yang cukup dikenal dari berbagai kalangan pemakai, untuk tetap dapat mempertahan eksistensinya di tengah persaingan global saat ini harus mampu meningkatkan kualitasnya.
Menurut Tanjong (2013), kualitas barang yang dihasilkan ditentukan oleh kegiatan yang dilakukan pada saat awal proses produksi hingga barang jadi. Agar produk yang dihasilkan berkualitas baik. Pada kenyataannya sebaik-baiknya kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan masih dijumpai produk yang rusak atau menyimpang dari standar yang telah ditetapkan perusahaan.
Kurangnya pengawasan standar kerja yang jelas pada PT “X” mengakibatkan sering terjadinya kecacatan produksi. Adanya kecacatan tersebut akan berdampak pada proses produksi yang dapat menimbulkan penambahan biaya sehingga dianggap pemborosan dan tidak dapat menggunakan sumber daya secara baik.
Pengawasan kualitas adalah usaha memastikan apakah kebijakan dalam mutu atau kualitas dapat tercerminkan dalam hasil akhir kualitas sebagai jaminan. Dengan kata lain pengawasan kualitas merupakan usaha untuk mempertahankan kualitas dan barang-barang yang dihasilkan agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan kebijaksanaan perusahaan, Assáuri (2004).
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam kegiatan pengawasan kualitas yaitu menentukan atau mengurangi volume kesalahan dan perbaikan, menjaga menaikkan kualitas sesuai standar serta mengurangi keluhan konsumen. Untuk mengetahui apakah kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan maka diperlukan adanya pengawasan setiap proses dari awal sampai dengan produk akhir. Dengan menggunakan statistical quality control evaluasi, perencanaan dan hasil akhir dapat diketahui sehingga kebijakan yang akan diambil berdasarkan objektivitas fakta. Untuk pelaksanaan proses produksi perusahaan harus menetapkan standar kualitas yang diperoleh dan hasil riset pasar, namun kenyataannya kegiatan produksi perusahaan mengalami hambatan-hambatan hal ini tercermin dengan adanya penyimpangan produk yang dihasilkan (defective), rusak atau cacat yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan permintaan konsumen. Statistic Quality Control (SQC) sebagai alat pengawasan kualitas produksi dapat membantu perusahaan apakah produk yang dihasilkan masih berada dalam batas-batas control atau tidak dari proses awal kualitas bahan, proses produk, produk akhir.
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian PT “X” di Depok yang bergerak di bidang konveksi telah memproduksi berbagai jenis pakaian, baik yang dipesan oleh eksportir maupun berproduksi memenuhi kebutuhan pakaian dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan telah menetapkan kualitas standar nasional maupun standar internasional. Dari data produksi periode 8 Juni sampai dengan 23 Nopember 2013 dilakukan terhadap pengawasan proses produksi. Dari data sebanyak 22 sampel yang diambil setiap seminggu sekali pada akhir pekan. Jumlah produksi dari sampel yang diambil sebanyak 29.991 unit baju, dengan jumlah kerusakan sebanyak 569 unit atau proporsi kerusakan sebesar 0,019, ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan jenis produk yang dihasilkan. Apabila dilihat ratarata jumlah produksi sebesar 1.364 unit per minggu dengan rata-rata kerusakan setiap minggu adalah sebanyak 26 unit baju. Dengan batas maksimum kerusakan sebanyak 47 unit pada minggu ke 16 dan batas minimum kerusakan sebanyak 13 unit pada minggu ke 22 dengan proporsi kerusakan sebanyak 0,012.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan Satistical Quality Control (SQC) dengan metoda peta kendali (Control Chart), batas kontrol tingkat kerusakan pengawasan pada produksi untuk Batas Kendali Atas (BKA/UCL) sebesar 0,035 dan Batas Kendali Bawah (BKB/LCL) sebesar 0,008, sedangkan pada sampel nomor : 16, yaitu Juli minggu pertama pada tanggal 13 Juli 2013 dengan jumlah produksi sebesar 1.167 unit dengan jumlah kenusakan sebesar 47 unit dengan proporsi kerusakan sebesar 0,040 berada di atas Batas Kendali Atas. Hal ini disebabkan pada saat itu ada kerusakan mesin obras. Adapun diagram Control Chart (P- Chart) dan hasil perhitungan di atas dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
Dari data analisis pertama bahwa pada kerusakan tertinggi pada minggu ke 16 diatas BKA maka hasil produksi minggu ke 16 dikeluarkan untuk diadakan perbaikan. Dari produksi sebanyak 28.824 unit dan jumlah yang rusak sebanyak 522 unit dengan proporsi kerusakan sebesar 0,018 sehingga semua titik berada dalam batas-batas kendali untuk Upper Control Limit (UCL/BKA) sebesar 0,035 dan Lower Conotrol Limit (LCL/BKB) sebesar 0,008 masih dalam batas kendali, digambarkan dalam peta kendali P- chart-nya adalah sebagai berikut:
Hal ini berarti bahwa proses produksi pada PT “X” di Depok akan menjadi baik bila selama proses produksi mesin dalam kondisi baik dan berjalan normal. Hal lain seperti bahan baku, manajemen dan skill dari sumber daya manusia telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan.

SUMBER:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar