Perusahaan Konveksi PT “X” di Depok yang telah memiliki
produk yang cukup dikenal dari berbagai kalangan pemakai, untuk tetap dapat
mempertahan eksistensinya di tengah persaingan global saat ini harus mampu
meningkatkan kualitasnya.
Menurut Tanjong (2013), kualitas barang yang dihasilkan
ditentukan oleh kegiatan yang dilakukan pada saat awal proses produksi hingga
barang jadi. Agar produk yang dihasilkan berkualitas baik. Pada kenyataannya
sebaik-baiknya kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan masih dijumpai
produk yang rusak atau menyimpang dari standar yang telah ditetapkan
perusahaan.
Kurangnya pengawasan standar kerja yang jelas pada PT “X”
mengakibatkan sering terjadinya kecacatan produksi. Adanya kecacatan tersebut
akan berdampak pada proses produksi yang dapat menimbulkan penambahan biaya
sehingga dianggap pemborosan dan tidak dapat menggunakan sumber daya secara
baik.
Pengawasan kualitas adalah usaha memastikan apakah kebijakan
dalam mutu atau kualitas dapat tercerminkan dalam hasil akhir kualitas sebagai
jaminan. Dengan kata lain pengawasan kualitas merupakan usaha untuk
mempertahankan kualitas dan barang-barang yang dihasilkan agar sesuai dengan
spesifikasi produk yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan kebijaksanaan
perusahaan, Assáuri (2004).
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam kegiatan
pengawasan kualitas yaitu menentukan atau mengurangi volume kesalahan dan
perbaikan, menjaga menaikkan kualitas sesuai standar serta mengurangi keluhan
konsumen. Untuk mengetahui apakah kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan
yang direncanakan maka diperlukan adanya pengawasan setiap proses dari awal
sampai dengan produk akhir. Dengan menggunakan statistical quality control
evaluasi, perencanaan dan hasil akhir dapat diketahui sehingga kebijakan yang
akan diambil berdasarkan objektivitas fakta. Untuk pelaksanaan proses produksi
perusahaan harus menetapkan standar kualitas yang diperoleh dan hasil riset
pasar, namun kenyataannya kegiatan produksi perusahaan mengalami
hambatan-hambatan hal ini tercermin dengan adanya penyimpangan produk yang
dihasilkan (defective), rusak atau cacat yang tidak sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan dan permintaan konsumen. Statistic Quality Control (SQC)
sebagai alat pengawasan kualitas produksi dapat membantu perusahaan apakah
produk yang dihasilkan masih berada dalam batas-batas control atau tidak dari
proses awal kualitas bahan, proses produk, produk akhir.
ANALISIS
DATA DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian PT “X” di Depok yang bergerak di
bidang konveksi telah memproduksi berbagai jenis pakaian, baik yang dipesan
oleh eksportir maupun berproduksi memenuhi kebutuhan pakaian dalam negeri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan telah menetapkan kualitas standar
nasional maupun standar internasional. Dari data produksi periode 8 Juni sampai
dengan 23 Nopember 2013 dilakukan terhadap pengawasan proses produksi. Dari
data sebanyak 22 sampel yang diambil setiap seminggu sekali pada akhir pekan.
Jumlah produksi dari sampel yang diambil sebanyak 29.991 unit baju, dengan
jumlah kerusakan sebanyak 569 unit atau proporsi kerusakan sebesar 0,019, ini
relatif sangat kecil dibandingkan dengan jenis produk yang dihasilkan. Apabila
dilihat ratarata jumlah produksi sebesar 1.364 unit per minggu dengan rata-rata
kerusakan setiap minggu adalah sebanyak 26 unit baju. Dengan batas maksimum
kerusakan sebanyak 47 unit pada minggu ke 16 dan batas minimum kerusakan
sebanyak 13 unit pada minggu ke 22 dengan proporsi kerusakan sebanyak 0,012.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan
Satistical Quality Control (SQC) dengan metoda peta kendali (Control Chart),
batas kontrol tingkat kerusakan pengawasan pada produksi untuk Batas Kendali
Atas (BKA/UCL) sebesar 0,035 dan Batas Kendali Bawah (BKB/LCL) sebesar 0,008,
sedangkan pada sampel nomor : 16, yaitu Juli minggu pertama pada tanggal 13
Juli 2013 dengan jumlah produksi sebesar 1.167 unit dengan jumlah kenusakan
sebesar 47 unit dengan proporsi kerusakan sebesar 0,040 berada di atas Batas
Kendali Atas. Hal ini disebabkan pada saat itu ada kerusakan mesin obras.
Adapun diagram Control Chart (P- Chart) dan hasil perhitungan di atas dapat
digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
Dari data analisis pertama bahwa pada kerusakan tertinggi
pada minggu ke 16 diatas BKA maka hasil produksi minggu ke 16 dikeluarkan untuk
diadakan perbaikan. Dari produksi sebanyak 28.824 unit dan jumlah yang rusak
sebanyak 522 unit dengan proporsi kerusakan sebesar 0,018 sehingga semua titik
berada dalam batas-batas kendali untuk Upper Control Limit (UCL/BKA) sebesar
0,035 dan Lower Conotrol Limit (LCL/BKB) sebesar 0,008 masih dalam batas
kendali, digambarkan dalam peta kendali P- chart-nya adalah sebagai berikut:
Hal ini berarti bahwa proses produksi pada PT “X” di Depok
akan menjadi baik bila selama proses produksi mesin dalam kondisi baik dan
berjalan normal. Hal lain seperti bahan baku, manajemen dan skill dari sumber
daya manusia telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
SUMBER:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar